Kekang Zaman

Langit bumi ini menghimpitku Menjadikanku sesajen hiruk-pikuk para pemburu penyambung nafas menguzur

Menertawakan yang meronta lemas

Mencaci yang lupa diri

Menanti, yang kalah dan akan mati

Langit bumi ini mengujiku

dari mereka aku dibentuk

oleh mereka aku diringkuk

dan untuk mereka aku dibekuk

mencoba mengais asa berhidup

di sela nafas robek yang smakin gugup

Tipis jarak semua

Terjepit ter rantai gravitasi jam pasir

usangku kini ku buang

ku nego dengan anyar sang kapsul waktu

Berjalan, ah, aku mampu berlari bahkan terbang

Manjauh dari yang merenggut benih sayap yang kini kerdil bertumbuh

#kishiwada,Cengkramaku.28/08/17

Iklan

Novel “Ayah”

Ayah..lewat novel ini, pembaca diajak berkeliling pulau Sumatera.

penyuguhan nan apik di setiap pemunculan peran baru dengan karakter natural sebagaimana manusia hidup pada umumnya, diawali dengan tanpa kuda-kuda narasi.

pendikripsian seorang “ayah” sangatlah kaya di dalam kisah ini.

dengan masih berdasarkan cerita cinta yang 100% menjadi garis start, hingga di pamungkas pun unsur itu tidak menipis.

penulis berhasil membuat pembaca mengernyitkan dahi, kesal, dibuat menunggu, dibuat membalik halaman yang lalu, dibuat bingung dan tidak bisa menebak kira-kira bagaimana halaman terakhir, dibuat liar dalam berimajinasi hingga indera penciuman pembaca, diperkenalkannya dialek dan logat bahasa pulau paling Barat itu, dan yang paling disuka adalah unsur “guyon” nya yang kadang membuat pembaca tertawa meledak.

cengkrama penulis dengan tokoh yang diciptakannya menjadi khas dalam penyajian setiap sekuelnya.
“ayah”, sosok yang bisa sangat waras melebihi orang terwaras sekalipun, dan bisa juga menjadi orang yang gila melebihi orang yang paling gila sekalipun.

semua karena sosok seorang anak, ya, aku pribadi sangat menikmati novel ini karena peranku yang masih seorang anak.
berani ku rekomendasikan terutama untuk teman-teman laki-laki, baik yang masih menyandang gelar bujang, atau akan lebih tersampaikan bagi yang sudah berkelurga dan memiliki anak^_^
ketika ku rindu Indonesia namun belum bisa pulang dengan segera, maka novel karya sastrawan negerilah yang ku kajadikan pintu kemana saja untuk ku mencapai bumi pertiwi meski secara abstrak dan imajinatif.
 #pustories.wordpress.com

Setelah Titik

aku hanya ingin menulis sesuatu yang petikan gitar tak mampu mengalunkannyahanya ingin menulis sesuatu yang suara sekeras apapun tak akan terdengar

hanya ingin menulis yang tak mampu diwakilkan oleh gambar diam maupun gerak

yang tak mampu tersampaikan, bahkan saat sosokmu jelas di depan mata

wahai, aku pun tak tahu kemana tulisan ini kutuju,

yang ku tahu, aku merindu dirindu

aku hanya ingin seseorang tahu,

sapu tanganku kini hampir tak berarti,

karna ia sudah terlalu basah untuk mengusap yang seharusnya sudah lelah dan berhenti
wahai, 

wahai engkau yang, mungkin tak pernah membaca tulisanku ini, 

sadari aku,

sadari di satu titik di belahan bumi nan jauh mungkin dari sosokmu,

ada seuntai nafas yang ingin kau sambung.
wahai…

aku berharap suatu saat ini bertuju.
#cengkramaku , Bumi Osaka, 29.03.27

Awal Akhir

Tidak setiap yang berakhir itu dipamungkasi titik

Begitu pula, kapital kadang ‘tak perlu menempati di pemuka perawalan sesuatu

Kadang saja, keterikatan dan keterkaitan itu perlu dikresi

Bebas namun tetap pada tegas

Saat aku mencoba mengakhiri yang ku anggap tidak akan berlanjut, di koma yang sama ku temui diri yang dulu di permulaan Fatiha jalan kita.

Laiknya melarangku berhenti, aku pun masih ingin tetap dalam paragraf-paragraf apik di kisah denganmu.

Terpasung ketakutan,

Ingin kuakhiri yang t’lah kuawali, atau  ku susun kembali yang ingin kusudahi?

Aku masih menyinta, pada adam yang sama. Hanya saja sekarang, aku lebih suka bercengkrama dengan nya lewat-Nya. Ku sadari, rinduku ‘tak bersyarat.
Poespito, Osaka.29.01.02

Visualisasi Tawajuh

Aku, 

Terkunci ‘tak terungkap

Terdiam ‘tak terucap

Abadikah semua ini yang abstrak lagi gelap?

Sedang perasaan mu meluap beraura sangat indah terkecap

Tersuguhkan agung dengan tingkah laku,  sungguh oleh perangai ayu nun cakap

Tapi jika,

selantunan suara pengakuan jujur

Maka,

semua yang terbangun pasti akan hancur

Sedangkan,

dia ‘tak siap akan ini semua wahai umur

Kini dia mencoba belajar dari tangguhnya para leluhur

Untuk tetap membisu lewat visualisasi tawajuh yang ‘tak pernah uzur

Aku di jeruji ini,

terbalut indah meronta

Terlipat terantai terpasung oleh prinsip semata

Lagi-lagi berkedok pengecut jelata

Gerah, ayolah empuku, curahkan semua mu yang ‘tak terkata

Osaka,28.12.31

Karena Jika Tidak…

Jatuh, jatuhlah,

Karena jika kamu tidak jatuh, kamu tidak akan belajar bagaimana cara bangun dan berdiri.

Gagal, gagallah,

Karena jika kamu tidak pernah gagal, tidak akan ada penghargaan untuk keberhasilan.

Sesat, tersesatlah,

Karena jika kamu tidak tersesat, kamu tidak akan mengerti bagaimana resahnya mencari jalan yang penuh dengan hal baru.
Kali pertamaku, merasakan meluncur di lantai es

Jatuh, tertawa, bangun, kembali meluncur, rentangan tangan, kaki yang dingin kaku, senyum, pembelajaran, puas untuk sementara, target lebih tinggi untuk berikutnya.

七転び八起き(Peribahasa Jepang, jatuh tujuh kali, bangkit 8 kali, kamu pasti tau makna di balik kalimat itu.)

Osaka, 28.12.30

Catatan Cermin

A aksen adalah bayangan yang terpantul dari sang aslinya.

Tidaklah beda sejatinya, hanya terbalik sisi-sisinya.

Yang atas tetap atas, yang bawah pun, rela berpasrah bawah.

Saat kau mendekat, ia pun mendekat.

Kau menjauh, ia pun menjauh.

Hanya, ia tak bersuara.

Ia ‘tak pernah tertawa saat melihatmu menangis.

Ia tetap diam tenang melihatmu yang kacau, menanyakan kenyataan yang seringnya bertolak belakang dengan kebenaran.

Hei, ia penjaga rahasia handal, bahkan di s’tiap lekuk kisah yang paling kau jagai.

Namun, satu retaknya, menciptakan seribu muka anyar.

Satu retaknya, rentan pembuat luka merah berdarah.

Terbuang usang, bersama sejuta cerita satu manusia.

Menanti, direnggut mati atau dihidupkan kembali.

Osaka, 28.12.29

DoReMi Kehidupan

DOa  yang s’makin terlupakan dari alam sadar insan

REngek tangis menjadi senjata dan alat meminta welas ‘tak berkemaluan

MInor Mayor kebutuhan bringas, tamak dan kikir ‘tak tertahan

FAkta, yang ‘tak selalu tersaji gamblang dan transparan

SOLidAritas yang mlempem dan selalu berembel-embel emas berlian

LAkon utama kini menjadi Dasamuka, biadab ‘tak bertoleran

SImpati, aksi hebat yang mungkin akan hilang lenyap dari kamus kehidupan

DOkumentasi dan pengakuan tunggal dan asli pun, ter tawar ter beli di tangan para pemegang kekuasaan

DoReMi kehidupan, benar adanya, meski ‘tak diharapkan keberadaanya.

Osaka, 28.12.29